Kontemplasi

Bukan bermaksud untuk menggurui/menghakimi:

Etika dalam keseharian yg sering dilanggar :

  1. Merokok di Ruang ber-AC, di Ruang Tertutup, di tempat larangan merokok, di dalam kendaraan umum, (guru/dosen) yang sedang memberikan pelajaran /kuliah.
  2. Menyerobot lampu merah. ( Tapi susah juga ya, kadang kalo berhenti malah disodok dari belakang )
  3. Bertelepon atau HP berdering (sengaja tidak di- silent) saat rapat (Kecuali Rapat RT, soalnya rapat RT ‘kan yang penting ngobrol sampe tujuan. Kagak perlu serius-serius amat. Ya ga ?! )
  4. Datang selalu terlambat (dengan sengaja) bila diundang rapat atau janji. ( Ini juga maksudnya buat urusan kantor atau kerjaan )
  5. Tidak memberi kesempatan kepada penyeberang jalan. (Tapi kalo yang nyeberang karena ga mau pake jembatan penyeberangan, itu sih terserah kita aja. Kalo ati lagi adem, kasih dah. Kalo ati lagi suntuk, bunyikan klakson, teriakin, omelin, dst…dst...)
  6. Tidak mau antri
  7. Membuang sampah sembarangan (Kalo ga ada tempat sampahnya gimana dong..??)
  8. Seringkali berlaku “DARMAJI”, eta mah kata urang Sunda teh , “Dahar Lima Ngaku Hiji”. Kalo makan di warung sering tidak jujur berapa jumlah makanan yang dimakan. Umumnya juga bila di supermarket tipe orang seperti ini suka ngutil atau nyolong.
  9. Ditagih utangnya malah ngamuk atau lebih galak dari yang kasih utang. Kalo ngutang juga lebih sering ngemplang alias kagak bayar lunas.
  10. Ngetem atau berhenti di tikungan jalan, perempatan, atau di jalur padat, sehingga jalanĀ  jadi macet. (ini sih kelakuan sopir angkot, metromini, dan mikrolet yang sudah tidak punya rasa, sudah terlanjur buta dan tuli)
  11. “Kemana arah Bajaj berlalu, hanyalah Tuhan yang tahu”. Maksudnya, pengendara yang dengan seenaknya belok tanpa melihat kendaraan lainnya yang dibelakang atau samping. Seperti kebiasaan sopir bajaj kalo belok atau manuver yang tiba-tiba.

  12. …(bersambung)

Banyak memberi, banyak menerima

Sering atau kadang terlintas dalam pikiran, dalam hati bertanya-nya, kikirkah kita? Ketika kita membuka dompet, mengeluarkan uang untuk orang lain, entah itu diminta atau memang kita ingin memberi, mungkin terlintas dalam benak kita, ikhlaskah kita saat memberi tersebut?

Hal yang manusiawi, apalagi kebutuhan sehari-hari yang makin besar, setiap orang selalu “berhitung” ketika akan mengeluarkan uang untuk orang lain. PelitĀ  dan kikir, sebutan yang pasti tidak disukai orang. Royal dan boros, juga merupakan stigma yang jelek bila itu menimpa diri kita. Lalu, harus berdiri dimanakah kita? Gampangnya, kita bilang:” di antaranya”. Cuma…pasti sulit untuk mengukurnya.

Barangkali sebagai alat ukur, kita mesti melihat seberapa mampu kita memberi, seberapa jauh pemberian kita itu punya manfaat buat si penerima. Kalau ingin mengevaluasi besarnya manfaat mungkin kita akan kesulitan, karena kita sendiri tidak mengalaminya. Paling kita hanya melihat dari sisi luar.

Kalau kita kaitkan dengan nilai-nilai spritual yang lebih tinggi, kata orang bijak:” ketika kita banyak memberi, maka kita akan makin kaya”. Sungguh akan bertolakbelakang bila itu diartikan secara sederhana. “Mana mungkin kita keluar uang tapi tambah kaya. Yang jelas uang kita makin berkurang, makin miskin…”.

Namun ketika mau untuk lebih mendalami, merenungkan, melihat kebelakang, bukankah kita sekarang ini memetik “buah” terhadap apa-apa yang telah kita tanam sebelumnya?! Kita digaji karena kita telah bekerja. Kita mendapat ucapan terima kasih dari orang lain ketika kita telah membantu orang tersebut. Kita, secara sadar atau tidak sadar, telah banyak ditolong orang karena kita gemar menolong orang lain. Dan banyak lagi.

Kita akan tersadar bahwa memberi itu sebagai moment yang indah, jika kita tidak pernah “berhitung”. Mudah-mudahan kita selalu ingin memberi bukan semata-mata karena kita berharap makin kaya tetapi itu lebih sebagai salah satu nilai-nilai keindahan dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan